Beberapa waktu lalu terjadi fenomena menarik saat saya membersamai sebuah sesi kelompok di tempat praktik saya di Bandung.
Ya, bagi yang mengikuti saya di media sosial mungkin menyadati bahwa setiap Sabtu sore, tepatnya dari pukul 15:30, saya memang mengalokasikan waktu khusus untuk membersamai kelas “olah kesadaran” di tempat praktik saya di Sanctuary Wellness Center, yang terletak di NuArt Sculpture Park, Bandung.
Sedikit gambaran. Tujuan dari kelas olah kesadaran ini adalah untuk menghadirkan pengalaman olah kesadaran diri yang bisa digunakan secara praktis.
Di dalam sesi ini ada latihan pernapasan, latihan olah gerak, olah visualisasi, dan berbagai teknik experiential lainnya, yang pada esensinya ditujuan untuk membantu memelihara kesehatan dan melepaskan “muatan negatif” dalam diri yang membebani kesehatan fisik, mental dan emosional.
Jangan berpikiran bahwa yang dibahas dalam sesi ini merupakan bahasan yang “berat”. Ditujukan untuk khalayak umum dan awam, muatan dalam sesi ini saya siapkan seringan dan sepraktis mungkin. Melalui sesi ini jugalah saya memberdayakan berbagai pengetahuan dan keahlian seputar teknik penyembuhan yang saya miliki, menjadikannya praktis dan bisa dilakukan oleh mereka yang awam sekalipun.
Di sesi yang saya bersamai beberapa waktu lalu, saya mengajarkan strategi pelepasan beban energi dalam diri yang melatari berbagai masalah fisik, psikis dan kualitas hidup, yang bersumber dari trauma, luka batin, atau stres, yang saya sebut sebagai prosesi “4+1A”.
Sebagai catatan untuk memperjelas konteks bahasan, istilah “4+1A” sendiri melambangkan 4 + 1 tahapan pelepasan beban energi dalam proses ini yang kesemuanya diawali dengan huruf “A”. Kesemua tahapan dalam proses ini sendiri saya intisarikan dari berbagai modalitas “somatic psychotherapy”, atau “psikoterapi yang berfokus pada tubuh (soma)” dan pendekatan penyembuhan berbasis mindfulness.
Sekian kali mengujikan prosesi 4+1A ini dalam berbagai sesi konseling dan terapi, saya mendapati prosesi ini menjadi satu hal yang bisa dipelajari dan dipraktikkan secara mandiri oleh para klien saya melalui pendekatan yang bersifat meditatif, yang menjadikan saya mulai lebih banyak mengajarkan dan membagikannya, termasuk di sesi kelompok yang saya bersamai ini.
Kembali ke kisah dalam sesi kelompok ini. Setelah melalui setiap tahapan demi tahapan yang ada, para peserta mengisahkan pengalamannya, yang mereka rasa “menakjubkan”. Berbagai sensasi mereka alami, sampai di fase pelepasan final dimana mereka bisa merasakan betul tubuh dan sistem energi mereka melepaskan berbagai beban yang bersumber dari trauma dan luka batin masa lalunya.
Namun disinilah terjadi satu hal menarik. Satu peserta kemudian mengisahkan bahwa meski ia merasakan pelepasan terjadi dalam dirinya, ada sebuah reaksi yang menghambat yang ia rasakan sangatlah tidak nyaman. Ia bahkan mengisahkan bahwa saat ia sedang bercerita itu pun ia merasakan kontraksi yang menyakitkan pada beberapa bagian tubuhnya, ototnya tegang, napasnya memburu, termasuk muncul sensasi mual yang mengganggu.
Karena dalam prosesi ini peserta tidak mengisahkan permasalahannya, maka saya pun belum tahu apa tepatnya jenis beban yang ia lepaskan, dan apa konteks cerita yang melatari bebannya. Untuk mengetahui lebih detail yang terjadi, saya lalu memandu peserta ini sekali lagi untuk memastikan dari mana penolakan ini bermula.
Di proses terpandu yang kedua ini, peserta ini lagi-lagi merasakan sensasi ketidaknyamanan fisik yang mengganggu. Berbagai sensasi dan rasa sakit yang ia rasakan malah terasa semakin jelas. Di titik ini saya akhirnya menyadari, ada sesuatu yang “terlanggar” dalam cara kerja pikiran bawah sadarnya, yang menjadikan pikiran bawah sadar menolak melepaskan beban yang ada dalam dirinya, dan bahkan “berontak”.
Saya lalu mengatakan pada peserta ini bahwa saya akan membantunya secara private, namun di akhir sesi, setelah sesi kelompok tersebut saya tutup. Maka demikianlah, setelah sesi kelompok saya akhiri saya lalu meluangkan waktu khusus untuk membersamai peserta ini secara lebih terkhusus.
Karena saya punya keleluasaan dan privacy lebih jauh kali ini, saya mulai menggali lebih jauh konteks kisah yang melatari beban yang ingin dilepaskannya.
Dari penggalian informasi ini saya mendapati bahwa beban yang ingin dilepaskan peserta ini bersumber dari rangkaian kejadian “menyakitkan” yang ia alami bersama sosok yang ia rasa dekat baginya.
Tanpa harus menggali detail cerita lebih jauh, saya langsung memastikan padanya, “Apakah sosok yang ia rasa dekat ini masih mungkin berpotensi melakukan hal yang menyakitkannya?” Seperti dugaan saya, jawabannya adalah “Ya”. Bagi saya, jawaban peserta ini langsung menjelaskan apa yang terjadi dalam dirinya dan kenapa muncul resistensi yang sedemikian mengganggu.
Yang terjadi pada peserta ini adalah terlanggarnya kriteria “ekologi” dalam sistem kerja pikiran bawah sadarnya.
“Ekologis” sendiri merupakan satu kriteria khas dalam NLP yang wajib setiap praktisi NLP kuasai dan jadikan pertimbangan dalam memfasilitasi proses perubahan apapun.
Kriteria ekologis ini mengacu pada cara kerja pikiran bawah sadar yang memiliki fungsi hakiki untuk bertahan hidup (survival), melindungi diri kita dari apa-apa yang dirasanya berpotensi mengancam (threatening). Ketika sebuah perubahan dirasa berpotensi mengancam atau menimbulkan ancaman, maka pikiran bawah sadar akan memunculkan resistensi agar perubahan itu tidak terjadi.
Bagi seorang praktisi NLP, penting untuk memahami kriteria ekologi di balik sebuah perubahan dari kondisi saat ini (present state) menuju kondisi yang diinginkan (desired state). Terlewatkannya kriteria ekologi inilah yang kerap kali memunculkan resistensi dari pikiran bawah sadar yang menjadikan perubahan tidak terjadi maksimal, seperti dalam kisah peserta yang saya bersamai ini.
Memastikan kriteria ekologi terpelihara dalam proses perubahan akan memerlukan beberapa prinsip dan teknik dalam NLP, seperti omnidirectional chunking, metaphor utilization, dan reframing, dimana berbagai teknik itulah yang saya kemudian praktikkan pada peserta ini.
Dalam proses lanjutan, saya mengajak peserta ini menyadari bahwa di balik resistensi yang dimunculkan oleh pikiran bawah sadarnya, sebenarnya ada maksud positif yang lebih tinggi (higher-positive intention) yang pikiran bawah sadarnya operasikan, yaitu melindungi dirinya dari potensi ancaman, atau rasa terancam yang bersumber dari sosok yang ia rasa bisa menyakitinya kapanpun.
Melalui sesi komunikasi lebih jauh dengan pikiran bawah sadarnya, saya mengajak peserta ini menyadari lebih jauh kriteria ekologi yang terlanggar dalam proses pelepasan bebannya. Melalui proses ini ia baru menyadari dua hal: (1) pikiran bawah sadarnya terbentuk dengan membawa fungsi proteksi untuk “bersiaga terhadap potensi ancaman”, (2) pikiran bawah sadarnya khawatir jika ia melepaskan beban ini sekarang maka ia jadi tidak lagi siaga dalam menghadapi potensi ancaman.
Jawaban ini memperjelas reaksi resistensi yang peserta ini alami. Pikiran bawah sadar memunculkan rasa sakit dan berbagai kemunculan reaksi fisik yang tidak nyaman lainnya karena pikiran bawah sadar menganggap:
“Melepaskan beban = menjadikan ia tidak lagi siaga menghadapi ancaman”.
“Melepaskan beban = ancaman”.
Maka muncullah mekanisme proteksi dari pikiran bawah sadar berupa kesimpulan, “Jangan sampai beban ini dilepaskan”.
Kesimpulan ini yang kemudian “terlanggar” dalam pelepasan beban yang ia lalui sebelumnya. Sebagai bentuk “protes”, pikiran bawah sadar akhirnya memunculkan reaksi berupa rasa sakit, agar proses pelepasan—yang dianggap membahayakan—itu dihentikan.
Munculnya kesadaran inilah yang mengubah jalannya tindak lanjut dari prosesi yang saya bersamai.
Melalui teknik komunikasi khusus dengan pikiran bawah sadar, saya mengajak peserta ini membangun sebuah arah perubahan baru, bahwa proses pelepasan beban yang ia akan lakukan tidak akan sampai mengganggu mekanisme proteksi pikiran bawah sadar yang berniat positif melindunginya. Pikiran bawah sadarnya tetap boleh dan dihargai perannya untuk mengoperasikan mekanisme proteksi yang menjadikannya siaga terhadap ancaman. Yang dilepaskan adalah “beban berlebih” yang mengganggu, yang mengontaminasi mekanisme proteksi pikiran bawah sadar.
Tidak lupa, pikiran bawah sadarnya diedukasi ulang bahwa melepaskan beban berlebih ini justru baik adanya, karena pikiran bawah sadar jadi bisa mengoperasikan mekanisme proteksinya dengan lebih baik lagi tanpa beban, sehingga “mode” siaga yang dioperasikannya adalah mode siaga yang “fokus pada solusi ”, bukan mode siaga yang “tidak berdaya”.
Sebagaimana sudah diduga, ketika proses komunikasi ulang dengan pikiran bawah sadar terjalin, perubahan terjadi seketika. Berbagai reaksi fisik yang semula mengganggu yang ia rasakan langsung mereda, tubuhnya langsung jadi lebih rileks, pernapasannya jadi stabil, berbagai sensasi sakit yang semula dirasakan pun memudar. Secara berangsur, ia juga merasakan bagaimana pelepasan beban yang tadinya terhenti kembali bekerja, ia jadi menyadari bagaimana berbagai beban yang bersumber dari luka dalam dirinya mengalir keluar, lepas dari sistem kesadarannya.
Belum selesai sampai disitu, muncul lagi fenomena menarik. Di tengah proses pelepasan tiba-tiba muncul lagi “interupsi”. Peserta ini menyadari bahwa pelepasan yang berlangsung seperti terhenti begitu saja.
Lagi-lagi, berdasarkan pengalaman membersamai perubahan banyak klien di ruang praktik selama ini, fenomena ini sebenarnya sudah cukup bisa diprediksi akan terjadi, maka saya pun melakukan proses komunikasi ulang sekali lagi dengan pikiran bawah sadarnya untuk memastikan apa kriteria ekologi lain yang masih perlu dipelihara agar pikiran bawah sadar bisa melepaskan beban yang selama ini tersimpan dalam dirinya dengan lebih mudah.
Di titik inilah pikiran bawah sadar memberikan muatan-muatan kebijaksanaannya. Jujur saja, muatan kebijaksanaan ini seringlah “tidak terprediksi”. Begitu juga yang terjadi dalam sesi peserta ini. Pikiran bawah sadarnya memberikan berbagai kebijaksanaan yang sedemikian “mencerahkan”, yang langsung melancarkan kembali proses pelepasan yang tadi berjalan, menjadikan bukan hanya penyembuhan (healing) yang terjadi dalam dirinya, namun juga transformasi kesadaran (awareness transformation).
Prosesi pun ditutup. Di akhir prosesnya peserta ini takjub merasakan betapa berbagai reaksi yang tadi ia rasa membebani kali ini tidak lagi ia rasakan. Saya lalu mengajaknya berkumpul bersama peserta lain ke area café, area dimana sesi di hari Sabtu selalu ditutup dengan berkumpul sesama peserta dengan diwarnai canda-tawa yang meringankan.
Menutup tulisan ini. Sebuah pesan pembelajaran yang hendaknya kita renungkan adalah, “Ketika kita ingin melakukan proses perubahan, sudahkah kriteria ekologi terpelihara di dalamnya?”
Jika kriteria ekologi ini tidak terpelihara sejak awal, maka sangat mungkin proses perubahan tersebut akan berjalan dengan tersendat-sendat.
Dalam banyak kesempatan, saya bahkan menujukan pertanyaan yang lebih mendasar, “Sudahkah yang dimaksud kriteria ‘ekologi’ ini kita pahami?”
